zonasi

Pelaksanaan zonasi dalam Penerimaan Partisipan Didik Baru (PPDB) 2019, terus memantik polemik. Menurut Pimpinan Pengurus Cabang (PC) Jalinan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jember, Jawa Timur, H Hobri Aliwafa, sistem zonasi mengadung banyak kelemahan, tetapi terdapat pula keuntungannya.

Tidak hanya memakai ukurun jarak sebagai salah satu aspek bernilai sekolah dalam menerima calon murid, pemerintah jua membatasi jumlah peserta didik baru. Dalam posisi ini, sekolah swasta tentu jadi alternatif.

“Kegagalan siswa bermutu yang bakal masuk sekolah negeri, berakibat pada realitas kalau mereka akan masuk sekolah swasta,” tukasnya kepada NU Online di kantor PCNU Jember, Selasa (25/6).

Menurutnya, dengan sistem zonasi, pesantren khususnya yang memiliki lembaga formal tentu akan kecipratan berkahnya. Tetapi berkah ataupun keuntungan itu dapat diraih pesantren ika penuhi paling tidak 3 perihal. Pertama, pesantren wajib tingkatkan manajemen pendidikannya berbasis ISO (International Organization for Standardization).

“Jadi peningkatan manajemen merupakan sesuatu keharusan,” lanjutnya.

Kedua yakni pesantren wajib mampu menyakinkan warga terkait kualitas pembelajaran serta lembaga formal yang dikelolanya Hal ini tidak mudah, serta bukan sekali jadi. Karena kepercayaan serta keyakinan publik itu datang dengan sendirinya bersamaan dengan prestasi yang diraih.

”Prestasi mesti diraih. Akhlaqul karimah dari santri dan anak didikya, perlu ditampakkan, itu salah satu yang memicu lahirnya kepercayaan masyarakat” tambahnya.

Ketiga, pengasuh, guru serta semua perangkat pesantren wajib menyatu dengan masyarakat, tidak eksklusif, terlebih sampai membikin jarak. Dengan demikian, biasanya masyarakat merasa ikut memiliki pesantren tersebut.

Dikatakan Hobri, peningkatan SDM (sumber daya manusia) pengelolanya juga penting yang dibarengi dengan kenaikan pelayanan kepada murid.

“Bila tidak terdapat pengingkatan apapun, jangan harap pesantren hendak memperoleh berkah serta barokah atas sistem zonasi ini, apalagi hendak terus menjadi tertinggal oleh sekolah- sekolah swasta yang dikelola lebih handal,” ucapnya.

Kendati demikian, dosen Pascasarjana Universitas Jember itu mengaku percaya pesantren dapat mendulang keuntungan dari sistem zonasi ini, serta luberan murid baru ke sekolah-sekolah resmi di pesantren ialah ‘keuntungan’ tertentu untuk pembinaan generasi masa depan bangsa.

“Terus cerah salah satu kelebihan pesantren terdapat pada pembinaan moralnya. Tetapi secara profesionalitas, pesantren telah mumpuni,” pungkasnya.

Baca juga :