maskapai

Kehadiran maskapai asing kini mewarnai babak baru problematika tingginya harga tiket pesawat. Rupanya strategi-strategi yang dilancarkan pemerintah sebelumnya seperti menekan Tarif Batas Atas tidak berdampak signifikan. Untuk menghindari kegagalan dalam menurunkan harga tiket yang berkepanjangan Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo mengusulkan ide ini.

Namun, rupanya pilihan ini tidak menjadi jawaban terbaik bagi sebagian orang. Keberadaan maskapai asing yang diharapkan menambah daya saing dan memberikan alternatif harga tiket ini tidak bersambut baik. Alvin Lie, pengamat penerbangan mengatakan hal ini bukanlah jurus terjitu. “Kenapa pemerintah setiap ada masalah, solusinya dengan asing? Apa benar nanti maskapai asing hanya bawa modal? Apa benar ada maskapai asing yang mau masuk?” ungkap Alvin dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (11/6).

 

Sebenarnya skema pendatangan maskapai asing ke Indonesia benar-benar mendasar. Pasalnya penurunan penumpang pada tahun ini sebesar 31,46% dari semula 3.899.278 pada tahun 2018, menjadi 2.665.389 orang pada periode yang sama di tahun 2019. (Dikutip dari: Tirto.id)

Menanggapi hal ini Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan mengatakan, daripada ‘mengundang’ asing untuk beroperasi lebih baik memperbaiki sistem dan memberikan keringanan pada maskapai domestik. Selama ini yang membuat perjalanan pesawat terkesan mahal juga disebabkan oleh regulasi seperti, biaya pajak, biaya kebandaraan dan lain-lain. Insentif dan keringanan seperti inilah yang dapat menciptakan harga yang kompetitif sekaligus tidak membuat maskapai rugi.

Rosan berharap pemerintah sebagai regulator bisa fokus dalam memberi insentif serta keringanan terlebih dahulu alih-alih membawa masuk maskapai asing. Imbas kenaikan harga tiket peswata memang berdampak banyak pada jumlah penumpang di Pulau Jawa, namun hal ini tidak berdampak besar pada perjalanan luar Pulau Jawa.

Baca juga: World Bank Pangkas Pertumbuhan Global