benih lobster

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan bahwa benih lobster tidak boleh lagi ditangkap. Karena, akan mengecam keberlanjutan komoditas tersebut di berbagai kawasan perairan Nasional.

Menteri Susi melaporkan, penjualan benih lobster merugikan sebab nilai jualnya terlampau kecil bila dibanding dengan nilai jual lobster dewasa. “Bibit lobster diambil dan dijual dengan harga Rp3.000, Rp10.000, Rp30.000 per ekornya. Sementara itu, harga satu ekor lobster kan sama dengan harga 30 kilogram, 40 kilogram, 50 kilogram ikan,” kata dia dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (14/7/2019).

Baca Juga: Menteri Susi Tantang Bos Facebook, Ada Apa Ya?

Sejalan dengan hal tersebut, harapan Susi bibit lobster yang sudah dilepasliarkan dibiarkan berkembang di alam dan dipanen oleh nelayan saat telah dewasa. Dia menarangkan, penyelundupan benih lobster sesungguhnya bukan fenomena yang baru, cuma saja, sepanjang ini praktik ilegal tersebut kurang memperoleh atensi sehingga praktik tersebut yang seakan-akan umum bisa terjadi.

Karena itu, Susi juga menaruh perhatian khusus dan menindak tegas para pelaku penyelundupan benih lobster serta terbukti, hasilnya pun telah mulai terlihat saat ini. Bersumber pada Peraturan Menteri Nomor 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan serta/ ataupun Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan, lobster yang undersized dan bertelur tidak boleh diambil dari perairan Indonesia.

Baca Juga: Outstanding Minister, Susi Pudjiastuti Bungkam Para Haters dengan Kinerja

Sebelumnya, Menteri Susi menyatakan, lautan merupakan kawasan yang bisa diakses berbagai masyarakat tanpa modal besar sehingga penting untuk melestarikannya dan memberdayakannya bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Untuk itu, dia menekankan pentingnya untuk menjaga laut, yang dinilainya merupakan satu-satunya sumber energi alam (SDA) yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat tanpa modal besar.

Hal itu, ujar dia tidak lepas dari tak terbatasnya akses terhadap laut yang tidak bisa dibatasi kepemilikannya oleh perorangan ataupun kelompok tertentu. “Satu-satunya SDA yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat tanpa modal besar ya perikanan. Tambang, minyak itu tidak bisa masyarakat umum dapat akses. Laut ini satu-satunya yang tidak ada kaveling-kaveling,” tuturnya.

Menteri Susi juga meningkatkan bahwa melindungi laut bagaikan masa depan bangsa sesuai visi Presiden Joko Widodo merupakan hal yang pas. Hal tersebut, lanjutnya, sebab daratan termasuk lahan pertanian bisa berkurang pada masa depan.