Foto: Instagram/gnfi
Foto: Instagram/gnfi

Seminggu yang lalu tepatnya pada hari Jumat (30/8/2019), kasus pemerkosaan seorang anak perempuan dari Suku Baduy terjadi. Namun, tahukah Suku Baduy sebenarnya merupakan suku yang dikenal dengan kearifan dan keramah tamahannya.

Suku Baduy sebenarnya adalah suku yang tinggal di area Banten pedalaman. Meskipun memiliki kesan warga pribumi yang tidak kenal teknologi, namun adat budaya mereka jauh lebih tinggi.

Baca juga: Ini Destinasi Solo Travel Paling Populer Buat Milenial Indonesia

Kehidupan mereka penuh dengan keharmonisan, menyatu dengan alam, menggunakan sekaligus merawat dengan baik hasil alam di sekitar mereka.

Suku Baduy terbagi menjadi dua yaitu, Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan mendasar selain dari lokasi tinggal mereka terlihat juga dari cara mereka melaksanakan aturan adat.

Baduy Luar lebih menerima kemajuan zaman. Mereka mempersilakan pengunjung datang dan menikmati wisata di dalamnya. Perbedaan dari cara berpakaian yang mencolok adalah Baduy Luar menggunakan baju serba hitam dengan ikat kepala dominan warna biru hitam.

Sedangkan Baduy Dalam lebih konservatif menerima teknologi. Mereka meskipun baik Baduy Luar maupun Dalam berjalan tanpa alas kaki, Baduy Dalam tidak membiarkan teknologi masuk ke wilayah mereka. Baju yang mereka gunakan biasanya didominasi warna putih dengan ikat kepalah putih.

Baca juga: Indonesia Dalam Pusaran Ekosistem Startup Dunia

Kearifan Pribumi Kanekes

Jangan dikira karena mereka merupakan suku yang hidup dengan memegang teguh adat budaya mereka tidak mau keluar dari perkampungan mereka. Baik di Banten, Jawa Barat, maupun Jakarta bisa saja menemui orang-orang Kanekes (sebutan lain Suku Baduy).

Mereka biasanya ke kota-kota untuk menjual langsung hasil memanen madu asli hutan. Sembari berjalan tanpa alas kaki mereka menjual madu asli tanpa bahan pengawet. Dengan pakaian khas adat mereka, dengan adat yang sama sekali jauh dari perspektif orang tentang ‘orang suku’ mereka bisa menggunakan fasilitas umum jauh lebih baik ketimbang mereka yang menyebut dirinya ‘orang kota’.

Sedih mendengar berita beberapa hari yang lalu tentang kekejian ‘orang kota’ yang tega memerkosa seorang anak perempuan berusia belasan tahun. Mirisnya lagi ada tersangka yang masih berusia sekolah. Sangat muda sekali untuk memikirkan hasrat seksual. Apalagi kejadian tersebut dilakukan setelah korban meninggal dunia.

Suku Baduy yang aman dan tenang masih akan seperti itu. Nilai positif Sunda Wiwitan yang diajarkan turun temurun tidak akan sirna termakan kemajuan teknologi Semoga Suku Baduy tetap suci dan bersih, tidak ternoda.

Baca juga: Indonesia Jadi Negara Pencetak Startup Terbanyak, Ini Daftarnya