koperasi di indonesia

Koperasi di Indonesia dalam perkembangannya sejauh ini menemukan persoalan internal yang harus dituntaskan, yaitu soal komitmen para anggota untuk saling memiliki koperasi.

Dalam berkoperasi, pemahaman para anggota sekedar memanfaatkan simpan-menyimpan, akan tetapi tidak pernah meminjam untuk kegiatan usaha.

Ini yang dinamakan tidak punya rasa komitmen dalam berkoperasi. “Paradigma tersebut yang harus dirubah oleh para pelaku koperasi secara internal.

Apabila koperasi di Indonesia ingin maju dan berkembang” ujar Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM, Rulli Nuryanto.

Pernyataan tersebut diungkapkan kata sambutannya di seminar sehari oleh Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Papua dengan tema reformasi Koperasi dan Reformasi Industri 4.0 di Jayapura, Selasa (6/8/2019).

Koperasi di Indonesia Harus Berkembang

Lebih jauh, Rulli menegaskan mengenai persoalan komitmen berkoperasi menjadi pemikiran bersama karena sejatinya keberadaan koperasi bukan untuk kepentingan pengurus dan pengelola saja.

Baca juga: Sekolah Miliarder Cetak Wirausaha Muda di Tanah Air

Oleh karena itu, jiwa-jiwa komitmen dalam berkoperasi harus ditumbuhkan sebagai spirit dalam untuk memajukan koperasi.

Semua itu, tidak lepas dari pondasi koperasi yakni para anggotanya dan jika anggota koperasi lemah, maka lemah pula koperasinya.

Rulli memberi contoh, ketika sebuah koperasi memiliki toko dan para anggotanya berbelanja ke toko tersebut, tidak ke toko lain.

Begitu juga ketika koperasi memiliki dan menjual produk-produk, kemudian para anggota membeli produk tersebut.

“Cara pandang tersebut yang harus dimiliki para anggota dalam rangka menuju reformasi koperasi,” paparnya.

Selain persoalan internal yang menjadikan tantangan ke depan koperasi, Rulli juga menyampikan tentang bonus demografi yang harus disikapi oleh para pelaku koperasi, agar koperasi bisa diterima oleh kalangan anak muda.

Baca juga: 5 Ide Bisnis Jelang Idul Adha, Hmm Mesti Dicoba!

Koperasi pun harus mampu berbenah diri mengikuti perubahan zaman dan menarik untuk dimanfaatkan kawula muda.

Mengapa koperasi itu menarik? Karena koperasi hebat dan keren, sikap inilah yang harus tumbuh dan disampaikan kepada mereka bahwa koperasi adalah entitas bisnis yang dimiliki bersama.

“Dahsyatnya lagi, koperasi bisa membuat perseroan (PT) untuk memaksimalkan bisnis, sementara PT tidak bisa membuat koperasi,” jelasnya.

Baca juga: Indonesia Jadi Negara Pencetak Startup Terbanyak, Ini Daftarnya

Sementara Ketua Dekopin Wilayah Papua, Sulaiman Hamzah menuturkan, perkembangan koperasi masih menghadapi masalah.

Baik pada bidang kelembagaan maupun usaha koperasi itu sendiri, masalah tersebut bersumber dari dalam maupun luar koperasi.

Masalah lain, menurutnya, terkait aset koperasi dan bantun pemerintah dari APBD dan APBN yang tersebar di desa dan kampung-kampung.

Harus dipertahankan sebagai kekayaan koperasi, bukan untuk digunakan secara pribadi. Jika digunakan secara pribadi, lama-lama aset koperasi tersebut kan hilang.

“Di sinilah pemerintah harus hadir memberikan sosialisasi, edukasi, dan penyuluhan terkait aset pemberian pemerintahn tersebut,” tandas Sulaiman.