Asianet.id – Retailer fesyen asal Swedia, H&M, mendapat kritik dari seorang pegiat anti-fast fashion terkait rencananya memproduksi pakaian dari bahan Circulose. Circulose sendiri merupakan brand sekaligus nama jenis kain baru yang terbuat dari katun bekas yang didaur ulang.

Dengan rencana ini, H&M digadang-gadang akan menjadi raksasa fesyen pertama yang memanfaatkan material produksi perusahaan yang juga berasal dari Swedia, Re:newcell.

Pakaian yang nanti dijual H&M bakal memadukan dua jenis bahan yang sama-sama ramah lingkungan, yaitu Circulose dan Viscose. Masing-masing bahan persentase penggunaannya adalah 50%.

Baca juga: Penggemar Fashion Branded, Balenciaga Baru Rilis Koleksi Tas Hello Kitty Lho!

Sebelumnya kepada laman Womens Wear Daily, H&M pernah menyampaikan bahwa produk pakaian dari bahan Circulose akan mulai dirilis ke pasaran pada musim semi mendatang.

Cara ini merupakan salah satu langkah yang dibuat H&M untuk menghasilkan koleksi yang lebih ramah lingkungan. Bahkan perusahaan ini bertekad bakal sepenuhnya memproduksi baju yang bahan-bahannya berasal dari sustainable sources pada 2030.

Rencana tersebut rupanya mendapat kritikan dari aktivitas anti-fast fashion, Venetia La Manna. Kepada The Independent, La Manna menuding H&M sedang melakukan greenwashing terhadap para konsumennya.

Greenwashing sendiri merupakan istilah marketing yang digunakan untuk mempromosikan atau memberikan persepsi kalau sebuah produk dari perusahaan tertentu dalam proses produksi maupun kebijakannya bersahabat dengan alam.

“Ini adalah contoh lain H&M yang sedang melakukan greenwashing terhadap konsumennya,” kata La Manna.

Menurut La Manna, Circulose sejatinya adalah inovasi yang sangat bagus, di mana jenis kain tersebut terbuat dari limbah, vegan-friendly, tak beracun, tahan lama, dan mudah terurai.

“Sebagai jenis kain baru, produk ini tentu lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan ramah lingkungan lain yang sudah ada sebelumnya,” kata dia.

Baca juga: Bisnis Fashion Redup, Victoria Beckham Terlilit Hutang Rp630 Miliar

Hanya, saat mendengar Circulose memilih ber-partner dengan H&M, La Manna mengaku sangat menyayangkan.

“Sustainable fashion perlu untuk mudah diakses oleh siapa saja. Tapi, dengan mengikuti konsep fast fashion, hal tersebut tentu tak akan tercapai,” kritiknya.

La Manna menjelaskan, limbah tekstil meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Fokus kita seharusnya lebih pada mengurangi belanja baju dan memperlambat produksi ketimbang memperkenalkan jenis material baru untuk dibeli.

Yang dilakukan H&M, lanjut La Manna, justru akan makin menaikkan produksi kain dan berdampak pada kian meningkatnya limbah fashion. “Alur fashion yang cepat ini tak akan pernah menjadi sustainable,” tandasnya.

Hingga Minggu (2/2), pihak H&M dilaporkan The Independent belum memberikan komentar mengenai kritikan tersebut.