status gunung slamet

Status Gunung Slamet di Jawa Tengah yang naik dari Level I (Normal) jadi Level II (Waspada) disebut Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tak perlu disikapi dengan panik. Namun masyarakat perlu mengenali potensi ancaman erupsi gunung tersebut.

Kepala PVMBG Kasbani mengatakan potensi ancaman erupsi Gunung Slamet cenderung bersifat magmatik dengan erupsi diawali letusan freatik berupa gas dan air.

Bila terjadi letusan, kata Kasbani, dipastikan bakal terjadi lontaran atau guguran magma dari dalam kawah dan meluber dengan radius dua kilometer.

Status Gunung Slamet Naik Menjadi Waspada

“Erupsi magmatik menghasilkan lontaran material pijar yang melanda daerah sekitar puncak di dalam radius dua kilometer. Untuk erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah berpotensi terjadi tanpa ada gejala vulkanik yang jelas,” kata Kasbani di Kantor Pusat PVMBG, Bandung, Jumat (9/8).

Kasbani menyebut hingga saat ini kapan erupsi Gunung Slamet terjadi belum bisa dipastikan secara pasti.

Baca juga: Aman, Gunung Tangkuban Perahu Kembali Dibuka

Namun tanda-tanda erupsi sudah terekam selama sebulan terakhir berupa peningkatan aktivitas gempa hembusan hingga seribu kali per hari.

Selain itu, terdapat perubahan bentuk atau deformasi berupa penggelembungan tubuh gunung yang menandakan desakan material vulkanik dari magma.

Kasbani juga mengatakan potensi kejadian erupsi juga bisa terekam dari hasil pengukuran suhu air panas di kawasan Guci yang selama ini menjadi destinasi wisata.

Pengukuran suhu mata air panas teranyar di tiga lokasi kawasan tersebut menunjukkan suhu air berkisar 44,8-50,8 derajat Celsius. Angka ini bersifat fluktuatif, namun menunjukkan kecenderungan naik dibanding pengukuran sebelumnya.

Sementara itu Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Hendra Gunawan mengatakan berdasarkan data satelit, sudah terpantau ada titik api diam di kawah Gunung Slamet.

Baca juga: Gunung Tangkuban Perahu Alami Erupsi

“Dari gambar yang kita terima, areal kawah Slamet sudah merah-merah. Hal ini menandakan kubah sudah terpanasi energi dari perut gunung,” ujar Hendra.

Hendra mengatakan potensi letusan Gunung Slamet mungkin saja terjadi secara tiba-tiba, seperti kejadian pada 2014.

Kala itu, Gunung Slamet berstatus siaga dan hanya mengeluarkan letusan strombolian. Lalu kawah melontarkan material pijar yang ketika di malam hari terlihat seperti kembang api.

Akan tetapi, Hendra menyebut Gunung Slamet bisa juga tidak meletus. Maka dari itu, pengamatan terus dilakukan secara intensif melalui Pos PGA di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

“Yang jelas, secara kegempaan dan deformasi cukup signifikan. Penggembungan mencapai 20 microradian. Secara visual memang tak teramati adanya gejala erupsi, bengkaknya juga. Tapi potensinya dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya