Metal globe resting on paper currency

Asianet.id – Virus Corona telah menjadi sumber ketidakpastian yang menjadi perhatian global saat ini, khususnya di bidang pergerakan ekonomi. Pasalnya penyebaran virus bertepatan dengan liburan Tahun Baru Imlek yang biasanya akan mendorong aktivitas belanja, berpergian serta pengiriman barang sebagai hadiah Imlek.

Akibat penyebaran virus ini banyak masyarakat banyak mebatalkan rencana liburannya. Stasiun kereta api dan bandara menjadi sepi meskipun ada libur selama sepekan.

Dilansir dari Katadata.co.id, Pemerintah Tiongkok bahkan memperpanjang liburan tahun baru Imlek hingga 2 Februari mendatang sebagai upaya untuk menahan penyebaran virus yang lebih luas. Diketahui korban yang terinfeksi virus corona terus meningkat. Hingga saat ini sudah lebih dari 80 warga Tiongkok dilaporkan tewas akibat virus tersebut.

Baca juga: Dapat Kiriman Paket dari China, Mungkinkah Bisa Menularkan Virus Corona?

Masalah yang paling krusial sebenarnya adalah bagaimana nasib ekonomi Negeri Tirai Bambu ini. Pasalnya ekonomi China selama bertahun-tahun menjadi salah satu mesin pertumbuhan paling kuat di dunia. Kehancuran di Tiongkok bisa membuat pekerjaan dan pertumbuhan di tempat lain terhambat.

Wabah virus corona ini sontak mengingatkan kita pada peristiwa wabah virus SARS yang juga pernah menyerang China pada 2003 lalu. Pada saat itu pertumbuhan ekonomi China sempat anjlok selama puncak epidemi SARS. Namun berhasil kembali pulih ketika perusahaan-perusahaan global membangun pabrik-pabrik China dan mengekspor lebih banyak barang di luar negeri.

Meskipun dibandingkan tahun 2003 lalu, memang pertumbuhan ekonomi China saat ini sudah jauh lebih berkembang. Namun sebelum kasus virus corona yang merambah, China tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi paling buruk dalam tiga dekade terakhir. Pemicunya tak lain yakni perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) serta desakan agar pemerintah melepas ketergantungan perusahaan lokal pada pinjaman.

Untuk saat ini masih belum ada kejelasan mengenai nasib perekonomian di negeri Panda tersebut. Pihak berwenang tampaknya merespons lebih cepat terhadap wabah ini daripada yang terjadi pada tahun 2003 lalu. Namun China terus memperketat pemberitaan di media. Terdapat kebijakan sensor berita oleh China menghapus apa pun yang membelok dari narasi resmi.

“Ini akan tergantung pada bagaimana China terus transparan dengan komunitas internasional,” kata Peter Levesque, Managing Director Modern Terminal, operator pelabuhan di Hong Kong. “Hanya itu yang bisa diminta oleh semua bisnis. Sisanya tidak diketahui. ” lanjutnya.

Baca juga: Cina Menyebutkan Bahwa Virus Corona Misterius Menular antar Manusia

Sebenarnya, Wuhan sendiri merupakan kota yang sangat penting untuk perdagangan di wilayahnya di China. Kota ini adalah pusat transportasi nasional utama dan telah menjadi pusat pembuatan mobil, dengan pabrik yang membuat mobil untuk General Motors, Honda dan banyak lainnya, serta puluhan pembuat suku cadang mobil.

Sehingga efeknya pada orang-orang di seluruh negeri bisa menjadi faktor yang lebih penting.

Dalam jangka panjang, China menagetkan konsumennya berbelanja lebih banyak. Beijing, sebagai Ibu Kota negara China pun telah berupaya mendorong konsumsi lebih banyak yang serupa dengan AS sehingga ekonomi China tidak hanya bergantung pada proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur besar yang sering menerima pembiayaan pemerintah. Namun berbagai kasus yang melanda negeri ini lebih membuat takut para pembeli.

“Gangguan ini datang pada saat pertumbuhan ekonomi China sudah terlihat rapuh, dan sayangnya akan membatalkan beberapa dorongan dalam sentimen konsumen dan bisnis dari China-AS. kesepakatan perdagangan, “kata ekonom Eswar Prasad, mantan kepala unit Dana Moneter Internasional China.
“Penyebaran yang lebih luas dari penyakit ini memiliki potensi untuk mengganggu perjalanan, perdagangan, dan rantai pasokan di seluruh Asia, dengan efek knock-on pada ekonomi dunia, karena Asia sekarang merupakan pendorong utama pertumbuhan global.”