denda facebook

Facebook dijatuhi denda oleh Federal Trade Commision terkait pelanggaran privasi usernya pada tahun 2014 dan 2015. Denda tersebut sebesar USD 5 miliar atau di kisaran Rp 70 triliun.

Baca juga: Perluas Health Ecosystem, Allianz Berinvestasi ke Halodoc

Denda tersebut merupakan rekor denda terbesar yang dijatuhkan oleh Federal Trade Commision. Namun, bagi Facebook denda tersebut seolah tidak berarti. Karena pada tahun 2018 Facebook meraup pendapatan USD 56 miliar. Artinya, jumlah denda yang harus dibayar Facebook kurang dari sepersepuluh revenue mereka tahun lalu.

Kasus tersebut bermula pada Maret 2018 terkait skandal Cambridge Analytica. Cambridge Analytica merupakan konsultan politik. Salah satu kliennya adalah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Data-data tersebut diduga dimanfaatkan untuk kepentingan Pilpres AS 2016 silam. Saat Hillary Clinton dan Donald Trump bersaing untuk menuju Gedung Putih.

Baca juga: Bos Facebook Kecewa Disamakan dengan Bill Gates, Kenapa?

Meski utnuk kepentingan Pilpres AS, data pribadi pengguna Facebook yang bocor justru berasal dari negara lain. 70 juta pengguna dari AS yang disusul Filipina 1,1 juta pengguna, Indonesia 1,09 juta pengguna, hingga Inggris dengan 1,07 juta pengguna.

Selain denda, Mark Zuckerberg yang merupakan CEO Facebook juga mendapat pembatasan di mana dia akan diawasi jika mengeluarkan keputusan yang berpengaruh pada privasi pengguna. Tapi tetap saja hukuman tersebut dipandang belum cukup mengingat masifnya skala skandal Cambridge Analytica.

Baca juga: Libra, Mata Uang Digital dari Facebook