coliving space

Dalam tiga tahun terakhir keberadaan coworking space cukup meramaikan industri ruang kerja di Indonesia. Beberapa coworking space di Indonesia di antaranya yaitu EV Hive, Regus, GoWork, dan lain sebagainya.

Ruang kerja konsep kolaborasi tersebut diperuntukkan bagi startup atau pengusaha pemula yang membutuhkan tempat kerja sekaligus relasi guna memenuhi kebutuhan bisnisnya.

Dan kini, industri ruang kerja bersama semakin berkembang dan melahirkan konsep baru untuk kebutuhan startup dan pengusaha milenial, yaitu coliving space.

Coliving Space

Coliving space adalah ruang kerja bersama dengan desain seperti rumah tinggal dan para penghuni dapat saling berkolaborasi, atau lebih tepatnya sebagai tempat tinggal para startup.

Baca Juga: #TipsSukses Ala Bill Gates, Tak Percaya Cuti

Serupa dengan apartemen atau kamar kos, coliving space diperuntukkan bagi para startup dengan kebutuhan yang lebih kompleks, seperti ruang event dan kolaborasi yang lebih intens dengan penghuni lain.

 

coliving space

Sebagai ruang dengan konsep tempat tinggal yang ditujukan untuk para pengusaha dan founder startup maka di dalamnya ada sebuah ruang kerja bersama yang bisa digunakan para penghuni untuk bekerja, serta berkolaborasi dengan penghuni lain.

Layaknya co-working space, penyedia layanan ini pun biasanya menghadirkan event yang bisa menambah pengetahuan dari para penghuninya. Berbagai fasilitas tersebut membuat biaya sewanya biasanya lebih mahal dibanding apartemen atau kamar kos biasa.

Konsep bisnis seperti ini pun telah muncul di negara lain, seperti KoHub di Thailand, CoHo di India, serta The Student Hotel di Eropa. Startup coworking space asal Amerika Serikat yang telah mendapat predikat unicorn, WeWork, bahkan telah menjalankan bisnis coliving space dengan nama WeLive.

Baca Juga: Make Up Artist Jadi Profesi Pilihan Milenial

Pertama kali masuk ke Indonesia dan hadir di Ubud, Bali dengan brand Roam coliving space, yang dikembangkan oleh arsitek asal Jerman, Alexis Dornier.

Di tengah tingginya harga apartemen, serta rendahnya kemampuan daya beli generasi milenial dalam membeli rumah di tengah kota, coliving space dapat menjadi salah satu solusi hunian yang bisa dikembangkan oleh para pengembang.

Konsep ini dianggap cocok untuk para milenial yang bekerja di tengah kota, namun belum memiliki keinginan untuk membeli rumah atau apartemen. Coliving space disuguhkan sesuai dengan karakter milenial yang menyukai kebebasan, waktu kerja fleksibel, dan tidak ribet.

Alex pun meyakini, bila ada konsep tinggal seperti ini yang terletak di lokasi strategis yang dekat dengan perkantoran, maka akan banjir peminat.